Berita - Artikel

  MISI KEMANUSIAAN MENEMBUS LANGIT HONG KONG

1 tahun yang lalu, telah di baca: 252 kali

MISI KEMANUSIAAN MENEMBUS LANGIT HONG KONG

Oleh : Deratih Putri Utami Awaliyah Firdaus

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang zaman. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya”. - Pramoedya Ananta Toer -

Misi kemanusiaan adalah sebuah perjalanan yang tak akan pernah usai walau dunia ini sudah berubah 180 derajat. Perjalanan kemanusiaan merupakan hal yang cukup baru dalam hidup saya sampai akhirnya Allah mengizinkan saya untuk memperdalam ilmu baru tentang kemanusiaan melalui keterlibatan langsung saya melalui suatu kegiatan berupa Outing Leadership and Humanity Program yang saya dapatkan sebagai salah seorang penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTINUSA) dari Dompet Dhuafa yang dilaksanakan selama tujuh hari di Hong Kong.  

Kegiatan Outing Leadership and Humanity Program dimulai ketika saya sudah menginjakkan kaki di Hong Kong dan mendengarkan kondisi-kondisi para Buruh Migran Indonesia (BMI) yang saya dapatkan melaui cerita dari salah seorang pengurus Dompet Dhuafa Hong Kong yang bernama pak Ilham. Beliau bercerita betapa mirisnya kondisi BMI kita di sana sampai ada banyak yang terlibat dalam kehidupan seks bebas, pecandu dan pengedar narkoba, korban kekerasan dari majikan dan bahkan ada yang sudah bertahun-tahun terlilit hutang hingga dengan terpaksa menggadaikan paspornya dengan konsekuensi tidak akan bisa pulang ke Indonesia dan harus tetap bekerja keras di negeri orang. Tidak cukup sampai cerita tentang BMI, pak Ilham mulai bercerita mengenai gaya hidup masyarakat Hong Kong yang sangat individualisme, tipe orang-orang yang penuntut dan cukup emosional. Hal ini memiliki korelasi positif dengan bagaimana para BMI menentukan sikapnya ketika berhadapan majikan.

Deskripsi mengenai kondisi BMI sudah sangat cukup bagi saya untuk dijadikan bekal ketika melakukan misi kemanusiaan di lapangan. Misi pertama yang saya jalankan adalah saya bersama tiga orang volunteer Dompet Dhuafa yang juga BMI mengunjungi, yaitu ibu Nur, ibu Arafah dan ibu surtini. Kegiatan membesuk BMI yang sedang sakit ternyata rutin dilakukan setiap hari libur oleh mereka dengan tujuan untuk memberikan suntikan semangat bagi para BMI yang sedang terbaring lemah di rumah sakit milik pemerintah Hong Kong. Selama perjalanan saya banyak bertanya mengenai kegiatan-kegiatan volunteer yang mereka lakukan, bertanya soal kondisi BMI yang sakit serta pelayanan kesehatan di Hong Kong. Mereka mulai menceritakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang sudah sejak lama mereka lakukan diantaranya membesuk BMI yang sakit, melakukan advokasi kepada pihak kedutaan besar terkait dengan kondisi teman mereka yang berkeliaran menjadi gelandangan, BMI yang tersandung masalah dengan majikan bahkan masalah dengan hukum di Hong Kong, menyiapkan tempat untuk BMI yang sudah habis masa kontrak kerja dan sedang memperpanjang kontrak atau Visa serta penggalangan dana untuk saudara-saudara muslim di Rohingya, Suriah dan Palestina.

Kemudian lebih lanjut mereka dengan santainya bercerita soal kondisi BMI yang sedang sakit sambil memperlihatkan gambar-gambar kondisi terakhir mereka dari handphone salah seorang ibu volunteer dengan jumlah orang sakit yang cukup banyak dan penyakit yang diderita pun bukanlah penyakit ringan, melainkan penyakit leukemia atau kanker darah, meningitis, kanker, diabetes malitus, sakit komplikasi hingga penyakit kegilaan yang mereka alami. Banyak hal yang melatarbelakangi beberapa penyakit yang dialami oleh BMI tersebut, diantaranya tingkat stress yang dialami oleh para BMI karena pekerjaan serta perlakuan majikan yang cukup keras, pola makan BMI yang tidak baik serta penyakit bawaan yang memang sudah lama diderita saat mereka masih di Indonesia namun masih dalam tingkatan yang tidak parah. Hal yang membuat saya mulai bernafas lega pasca cerita-cerita miris yang saya dengar dari para volunteer tersebut adalah ketika saya menanyakan soal biaya pengobatan dari BMI yang sedang sakit itu bagaimana, siapa yang membayarnya dan apakah ada diskriminasi terhadap pelayanan kesehatan dari tim medis disana, dengan tegas salah seorang volunteer menjawab bahwa pelayanan kesehatan di Hong Kong secara penuh ditanggung oleh Asuransi kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta, jadi ketika para BMI sakit mereka hanya diharuskan datang ke rumah sakit di Hong Kong dan langsung dilakukan pemeriksaan oleh ahli medis, jika dibutuhkan tindakan tambahan seperti operasi, cuci darah dan implantasi organ langsung dilakukan tindakan tanpa mengeluarkan uang sama sekali.

Sesampainya di rumah sakit Tseung Kwan O saya langsung diarahkan untuk menggunakan masker dan langsung mengunjungi suatu ruangan yang berisi ibu BMI yang sedang sakit. Saat pertama kali saya bertemu salah seorang BMI yang baru dua minggu sadar dari koma. Saya sangat prihatin sekali karena kondisi BMI tersebut betul-betul lemas dan sudah tidak terlalu responsive dengan lingukungan sekitar. sempat bingung bagaimana harus berkomunikasi dengannya karena menurut informasi dari perawat, ibu tersebut sudah jarang sekali berbicara sulit untuk makan. Saya coba untuk memulai berkomunikasi dengannya, “Assalamuaiakum, ibu saya dera mahasiswa Universitas Sriwijaya, Ibu Apa kabar? Kami kesini dari Indonesia mau ngobrol sama ibu biar ibu cepet sembuh dan senang”. Pertanyaan serta pernyataan yang saya lontarkan dengan tidak terduga langsung direspon oleh ibu BMI dengan senyuman lebar. “ibu sudah makan? Ibu saya pengen banget nyuapin ibu, Ibu makan yah satu kali suap aja untuk saya?” Tanya saya dengan nada membujuk. Ibu tersebut yang awalnya tidak mau makan langsung mengangguk dengan kaku. Setelah saya selesai menyuapi ibunya dan memberi minum, saya langsung terfokus pada bagian samping kepalanya yang cekung. Kondisi kepala cekung yang dialami ibu tersebut merupakan efek dari tindakan bedah otak yang dilakukan  7 bulan yang lalu. Hal yang sangat berkesan dalam kunjungan ini adalah ketika saya pamit pulang dan menanyakan apakah ibu BMI yang sedang sakit senang saya menjenguk beliau, dan tanpa disangka ibu tersebut menjawab ”yoo seneng dek”. Sebelum pulang saya dan ibu BMI volunteer terus memberikan semangat dan pesan-pesan positif untuk terus mengucap asma Allah. Jam besuk sudah selesai dan saya langsung diinstruksikan untuk segara mencuci tangan, membuang masker serta meninggalkan rumah sakit.

Perjalanan selanjutnya saya ditugaskan bersama 1 orang teman yang juga mengikuti program outing ini untuk berjalan menelusuri distrik Cause we bay untuk bercengkrama dengan para BMI yang sedang menikmati hari liburnya di Victoria Park. Sepanjang perjalanan dari penginapan ke Victoria park, kami melihat banyak sekali BMI yang menikmati libur kerja dengan berjualan makanan, belajar make up, pengajian dan ada juga yang hanya saling bercerita dengan teman sesama BMI. Secara acak kami memulai perbincangan dengan 2 BMI asal Ponorogo yaitu ibu Nia dan Mba Dita. Awalnya kami menanyakan sudah berapa lama bekerja di Hong Kong menjadi BMI, dan ternyata keduanya memiliki pengalaman lama bekerja yang berbada, ibu Nia sudah 12 tahun sedangkan mba Dita baru 2 tahun bekerja menjadi BMI di Hong Kong. Mereka mulai bercerita pekerjaan mereka yang harus mengurusi satu anak majikan dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya. Kemudian mereka beralih meceritakan sikap majikan yang sangat baik kepada mereka, namun mereka juga mengungkapkan bahwa ada saja teman mereka sesama BMI yang mendapatkan perlakuan kasar lalu diusir majikan hingga temannya stress dan sekarang sudah di isolasi dirumah sakit jiwa. Setelah mendengarkan beragam cerita tentang pekerjaannya, saya melanjutkan pertanyaan dengan menanyakan suka dan duka menjadi BMI di hongkong, dengan cepat mereka menjawab “sukanya ketika gajian mendapat ratusan uang dolar Hong Kong dari majikan dan langsung kirim uang tersebut untuk keluarga di Indonesia, kalo duka nya ketika saya sedang merindukan keluarga yang ada di rumah, saya sudah meninggalkan banyak momen bersama mereka, saya tidak bisa melihat perkembangan anak saya dari sejak keci hingga sekarang sudah SMA” ujar ibu Nia. Terlepas dari cerita pengalaman kerja serta suka duka mereka selama menjadi BMI, mereka mengungkapkan “Walaupun kami sudah bekerja bertahun-tahun disini,kami memiliki harapan besar untuk pemerintah agar pemerintah Indonesia segera menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya untuk masyarakat, jadi kami gak perlu mencari nafkah jauh-jauh di negeri orang sampai meninggalkan keluarga yang ada di kampong halaman” ujar mba Dita.

Setelah kemi menggali beberapa pengalaman kedua BMI yang kami temui, kami terus mewawancarai BMI yang lain, dan ceritanya hampir sama, namun hal berbeda kami temui ketika di sekitar penginapan kami bertemu dengan BMI asal Subang bernama Indah. Dia bercerita bahwa menjadi BMI adalah pilihan hidup beliau sejak usia 19 tahun. Ketika kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuknya melanjutkan sekolah di perguruan tinggi, dia memutuskan untuk menjadi BMI di Singapura selama 2 tahun sambil belajar berbicara bahasa inggris hingga fasih. Setelah lancer berbahasa Ingris, Indah pulang ke Indonesia untuk menjadi guru bahasa inggris di TK daerah Jakarta Selatan, karena indah merasa kurang jika hanya menguasai bahasa inggris dia memutuskan untuk menjadi BMI di Hong Kong untuk belajar berbahasa kantonis. Sampai sekarang dia tetap bekerja sebagai BMI hongkong sambil mengikuti kursus merias, kursus fotografi serta kuliah di universitas terbuka di Hong kong.

Sekian cerita perjalanan kemanusiaan sampai menembus langit hongkong. Tentu banyak sekali nilai-nilai kehidupan serta ilmu yang saya dapatkan pasca melakukan perjalanan kemanusiaan yang memang tidak akan pernah usai sampai kapan pun. Melalui perjalanan ini saya meyakini bahwa nilai-nilai kehidupan yang nantinya akan mendarah daging dalam sebuah karakter diri tidak bisa kita dapatkan hanya dengan berdiam diri melainkan harus terus kita kejar melalui kegiatan sosial hingga lelah itu letih mengikuti langkah kaki ini

--- hdy ---

Pejabat Struktural

  • Drs. H. Wawan Ruswandi
  • Imam Suangsa, S.IP, M.Si.
  • Holly Prihantono, M.Pd.
  • Abdul Malik, S.Pd., MM
  • Dedi Taufik, S.IP
  • Ibnu Wahidin, M.Pd.
  • Wawan Sukmara, SE

Video Terkini

}